Pada tulisan kali ini saya akan ceritakan
perjalanan saya bersama dengan sepenggal kisah hidup saya di kampus dulu
yang bernama mentoring. Memang ini bermaksud untuk mempromosikan
mentoring dalam gerakan #AyoMentoring malam ini, tapi ini saya tulis
seobjektif mungkin sesuai dengan pengalaman yang saya pernah alami.
Selamat menikmati dan semoga bisa diambil hikmahnya.
Mentoring, khususnya mentoring ke-Islaman mungkin
merupakan sebuah kata yang lumrah dan telah sering di dengar oleh
sebagian dari kita, tapi bagi seorang Jay muda dulu, mentoring itu jadi
sebuah kata yang sangat asing. Selama SMA tak pernah sekalipun saya
tersentuh oleh mentoring. Sampai saat di awal masuk kuliah saya
diperkenalkan kepada mentoring oleh kakak-kakak kelas saya di FUKI
Fasilkom UI.
Sebagai seorang mahasiswa baru yang penuh dengan
rasa ingin tahu, saya mengikuti semua proses dari pembentukan kelompok
hingga pertemuan pekanan yang dijadwalkan rutin. Saya masih ingat jelas
sosok saya saat itu dari yang tidak tahu apa itu mentoring, doa penutup
majelis, bacaan quran yang belepotan, istilah-istilah bahasa Arab
seperti afwan, syukran, jazakallah, ikhwan, akhwat dan banyak lagi yang
saya tidak mengerti, tapi saat ini ternyata semua proses itu yang
membantu membuat saya bertumbuh dan berkembang. Beberapa hikmah dari
fase hidup saya bersama mentoring akan saya jelaskan secara singkat satu
per satu.
Aku, Mentoring, dan Keinginan Belajar Islam
Salah satu yang membuat saya sangat ingin untuk
datang ke setiap sesi mentoring waktu itu adalah saya bisa mendapat ilmu
ke-Islaman yang menarik dari setiap pertemuan. Materinya disajikan
dengan ringan oleh mentor pertama saya, Kak Anjar (ketua FUKI tahun
2007), lewat cerita dan ilustrasi sederhana. Saya yang selama ini
mengalami kekurangan sumber informasi tentang ke-Islaman seperti
menemukan fasilitas untuk bisa mendapatkan itu. Tapi yang paling
penting dari itu semua adalah mentoring membuat keinginan saya untuk
mempelajari Islam bertumbuh dengan sendirinya dari dalam diri.
Kebingungan demi kebingungan dan ketidaktahuan saya tentang Islam saat
itu yang menjadi penyebab dahaga saya akan ilmu-ilmu tentang Islam
muncul terus silih berganti. Hal itu menyebabkan setiap
pertemuan-pertemuan mentoring jadi sarana untuk menguji seberapa cepat
saya bisa bertumbuh dalam wawasan ke-Islaman.
Aku, Mentoring, dan Keinginan Berkontribusi untuk Islam
Boro-boro ingin berjuang untuk Islam, tahu tentang
Islam saja saya masih sangat hijau waktu itu. Tapi seiring dengan
berjalanannya waktu ditambah dengan semakin dalamnya saya terlibat dalam
aktivitas-aktivitas di Lembaga Dakwah Fakultas yang bernama FUKI
Fasilkom UI, semakin menumbuhkan semangat dan keinginan saya untuk bisa
berkontribusi dengan Islam. Bila teman-teman tahu tentang Badr
Interactive, start up yang saya dirikan bersama dengan teman-teman
Fasilkom lain, cikal bakal dari Badr Interactive adalah sebuah kelompok
mentoring. Yap, mentoring sedikit demi sedikit telah bisa membuat saya memiliki
keinginan yang lebih besar untuk mengetahui tentang Islam. Pengetahuan
tentang Islam itu yang membuat saya semakin cinta dan ingin bisa berguna
untuk Islam.
Aku, Mentoring, dan Saudara Perjuangan
Siapa sahabat dan saudara kita, menentukan karakter
kita. Nah inilah salah satu hal yang berpengaruh sangat signifikan
terhadap perkembangan kedewasaan dan jaringan saya saat ini. Bagaimana
mentoring telah bisa membuat saya memiliki lingkungan yang baik dan
kondusif untuk bertumbuh. Bertemu dan bergaul dengan orang-orang shaleh
telah memancing saya untuk bisa terus belajar dan mengembangkan diri.
Jika masa kuliah kita habiskan sebagian besar untuk berada di lingkungan
yang tidak baik maka diri kita akan berpotensi besar juga untuk menjadi
tidak baik. Hal inilah yang membuat saya berkeyakinan bahwa mentoring
tidak sekedar belajar agama, tapi juga soal berinvestasi dalam
perkembangan kepribadian.
Itulah sekilas pengalaman saya dari banyak sekali
kisah berwarna saya bersama dengan mentoring. Mentoring memang hanya
sebuah sarana jika hanya diartikan sebagai sarana, tapi mentoring bisa
menjadi investasi dan inkubasi berkualitas jika kita artikan dan jadikan
mentoring kita sebaik-baik wadah tumbuh berkembang. Memang sebuah
sarana pasti tetap ada kekurangannya, termasuk mentoring dengan segala
kelebihan dan kekuarangannya, tapi orang cerdas adalah orang yang selalu
bisa mengalikan potensi positif yang ada dan menutupi potensi negatif
sehingga tak mempengaruhinya, lebih bagus lagi jika kita bisa
memperbaikinya. Jalani dengan semangat, cerdas, dan ikhlas, maka Allah
akan membukakan pintu hidayah, hikmah, dan pertolongan-Nya.
Sumber: http://senjaya.tumblr.com/post/30994457756/ayomentoring-aku-dan-mentoring

No comments:
Post a Comment