Secara garis besar dalam fase ini Antum akan menetapkan :
- Populasi remaja seperti apa yang akan Antum ajak ke program mentoring;
- Mentoring seperti apa yang ingin Antum rencanakan;
- Dimana proses mentoring akan terjadi;
- Dengan siapa/apa Antum akan berpartner; dan
- Siapa saja yang akan Antum ajak sebagai Koordinator, Pementor dan Sukarelawan.
12 PARAMETER
1. Definisikan populasi remaja yang akan mengikuti program Mentoring Antum. Berdasarkan hasil dari daftar penilaian kebutuhan yang sudah kita bahas di PART I, Antum sudah bisa menentukan segmentasi remaja seperti apa yang menjadi objek dakwah Antum. Tanya pada diri sendiri, “Siapa saja yang membutuhkan program mentoring?” “Apakah sudah ada program yang sejenis di lingkungan sekolah ?” dan “Siapa saja yang memang mau dan tertarik untuk dimentor di sini?”.
Beberapa faktor lain yang juga perlu diperhitungkan ada seperti :
- Umur : Siswa sekolah seumuran apa yang akan Antum buat program mentoringnya? (kalau contoh saya tentu adik-adik SMP 2)
- Gender : Apakah program mentoring Antum mencakup mentoring Ikhwan dan Akhwat? (kalau di SMP 2 iya)
- Kebutuhan mentoring : Apakah program mentoring Antum hanya ingin memnuhi kebutuhan ilmu agamanya saja atau juga lifeskill, mental dan akademiknya juga? (di SMP 2 program mentoring tidak hanya ilmu agama, tetapi juga membina lifeskill, organisasi, public speaking, dan akademik juga)
- Karakteristik umum : Apakah Antum akan mementor adik mentor dengan karakter tertentu? Misalnya adik mentor yang mempunyai cacat fisik, keterbelakangan mental, atau malah yang kecerdasannya di atas rata-rata, atau akhlaknya sangat tidak wajar? (Di SMP 2 saya mementor adik mentor dengan kecerdasan di atas rata-rata)
3. Tentukan jenis mentoring yang akan Antum tawarkan kepada adik mentor. Selesai urusan adik mentor dan pementor, kini saatnya kita menentukan jenis mentoring yang akan Antum laksanakan di sekolah Antum. Saya sudah membahas mengenai tipe mentoring ini di tulisan “Macam-macam Mentoring”. Dari sana Antum bisa menentukan model seperti apa yang akan didelivery di sana. Masing-masing model mentoring membawa resiko dan konsekuensinya masing-masing, sesuaikan dengan tujuan mentoring Antum.
4. Meletakkan program mentoring sebagai cabang amal dari sebuah organisasi mentoring yang besar atau sebuah program yang berdiri sendiri. Banyak faktor yang bisa membantu Antum dalam menentukan posisi program mentoring ini; menjadi bagian dari sebuah program yang lebih besar, atau terpisah dari program yang lainnya. Misalnya Antum ketika berhitung-hitung sumber daya merasa bahwa sumber orang yang akan menjadi mentor tidak cukup. Atau, Antum merasa tidak memiliki dukungan teknis yang cukup seperti buku mentoring, peralatan simulasi, sistem mentoring yang komprehensif, jenjang kaderisasi, dan lain sebagainya. Pada kondisi seperti ini Antum bisa mencari bantuan pada lembaga/organisasi permentoringan yang bisa menyediakan itu semua. Setahu saya di Bandung ada Karisma ITB yang membuka program mentoring untuk remaja, atau ITSAR yang berfokus pada pembinaan remaja SMP. Di Bogor ada lembaga mentoring ILNA Youth Center, di Jakarta ada Iqro Club sementara di Jogjakarta ada Farohis ataupun SMART Syuhada yang juga bergerak di bidang pembinaan islami untuk remaja. Sesekali mainlah ke tempat-tempat tersebut dan tanyakan apa mereka bisa membantu Antum menyediakan program mentoring di sekolah Antum.
Tetapi, jika Antum memilih ingin meramu sendiri program mentoring untuk sekolah Antum, maka tidak ada salahnya juga. Saya akan bantu dalam tulisan-tulisan yang akan datang bertema “Bagaimana mengelola Program Mentoring dari Nol”. Tetap semangat! Detailnya akan saya bahas belakangan. Yang Penting semangat dulu!
5. Tentukan “semangat” yang menjadi ruh dalam program mentoring Antum. Mentoring hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan. Melalui kelebihan yang dimiliki oleh program mentoring, seorang pengelola program mentoring bisa membawa adik mentor untuk mencapai sesuatu yang menjadi ruh dari mentoring itu sendiri. Berikut saya jabarkan beberapa “semangat” ruh yang bisa kita terapkan dalam program mentoring :
- Pengembangan karakter, sosial dan kepemimpinan. Dalam model
ini mentoring dijadikan alat sebagai media pengembangan diri sang adik
mentor. Relasi yang dibangun antara adik mentor dan pementor adalah
relasi meneladani-yang diteladani. Karakteristik mentor yang tepat untuk
ruh seperti ini adalah seseorang yang bisa menunjukkan potensi
seseorang dan memberi pencerahan guna mengembangkan potensi terpendam
itu. Mentor memiliki skill motivator yang baik, kemampuan mengolah kata
yang bijak dan dapat memberi semangat adik mentor mencapai tujuan
pribadinya.
- Proses perpindahan dari dunia sekolah/kampus ke dunia kerja. Ruh
ini biasanya diterapkan di SMK atau Kampus S-1 maupun D-3 (vokasional)
semangatnya adalah membimbing adik mentor agar sukses memasuki dunia
kerja dan membuat prestasi gemilang yang tidak hanya membawa harum
namanya namun juga instansi tempat dia bekerja. Karakter kakak mentor
untuk mentoring macam ini adalah seseorang yang sudah sukses menapaki
dunia kerja, tidak perlu mapan namun sarat akan pengalaman kerja. Lebih
baik mentornya lebih dari satu dengan pengalaman yang berbeda. Yang satu
pengalaman sebagai pegawai, sementara yang satunya lagi sebagai
pengusaha (entrepreneur).
- Kesuksesan akademis. Urgensi mendapat nilai ujian yang besar
baik Ujian Nasional maupun ulangan harian pada saat ini mendapat
prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dulu sewaktu saya masih
bersekolah di Sekolah Negri. Saya masih merasakan betul betapa dulu itu
nilai ulangan harian yang tidak terlalu bagus tidak terlalu menjadi
faktor penting dalam proses kelulusan sekolah. Tapi sekarang, nilai
ulangan harian mendapat porsi dalam menentukan apakah seseorang itu bisa
lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi
atau tidak. Oleh karena itu, Program mentoring dengan semangat
memudahkan adik mentor untuk sukses di bidang akademisnya semakin
diperlukan di zaman sekarang ini. Tipe kakak mentor yang cocok untuk
mentoring dengan semangat seperti ini adalah seseorang yang memang sudah
terbukti dan teruji memiliki prestasi yang menonjol di bidang akademis,
tidak pernah keluar dari putaran sepuluh besar di kelas, bahkan akan
lebih bagus kalau sudah beberapa kali menjuarai perlombaan kecerdasan di
tingkat regional maupun nasional.
- Pengembangan fikriyah diniyah adik mentor dan pembentukan akhlak yang mulai serta ruhiyah yang semakin baik.
Sengaja terakhir saya bahas padahal ruh semangat ini yang lebih penting
untuk kita terapkan dalam program mentoring di sekolah kita dibanding
ketiga ruh diatas yaitu semangat untuk membawa adik mentor sukses dunia
dan sukses akhirat secara bersamaan. Sesuai dengan amanat yang Rasul dan
Allah sebutkan dalam Sunnah dan Quran berupa hadits dan ayat Qur’an,
begitu banyak tersebar ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan
seorang muslim yang tidak hanya sukses di dunianya tetapi juga sukses di
akhiratnya juga. Allah menyukai muslim yang kuat, Allah akan
meninggikan derajat seseorang yang berilmu pengetahuan, keutamaan
seorang muslim yang mencintai orangtua, Quran, mesjid, ibadah shalat,
puasa dan bersedekah. Semuanya itu akan membawa muslim tersebut menjadi
lebih baik dari segala aspek yang ia butuhkan layaknya berlian yang
indah dari segala sisinya. Sayang beribu sayang, sis-sisi berlian yang
seharusnya diasah dari seorang muslim ini ternyata hanya mendapatkan
“perawatan” selama 2 jam dalam pelajaran agama di sekolah yang tentu
sangat jauh dari “cukup” jika kita ingin mengembangkan semua potensi
dunia dan akhirat yang dimiliki. Oleh karena itu lembaga Rohis / Remaja
mesjid bisa menutupi kelemahan yang besar ini dengan mengadakan
mentoring keagamaan yang holistik, integral dan komprehensif (gokil euy
istilahnya padahal maksudnya adalah menyeluruh, luas dan dalam
. Tipe kakak mentor yang dibutuhkan adalah seseorang yang sudah dimentor agama cukup lama dan bisa menjadi teladan yang baik dalam segala aspeknya. Kakak mentor tersbut juga diharapkan dapat memberi contoh baik dalam hal akhlak. pemikiran, prestasi di sekolah, kemampuan berorganisasi, dan ibadah yang teruji kualitasnya.
7. Tentukan waktu yang akan dijadikan jadwal rutin mentoring. Semangat dan ruh yang sudah Antum pilih dari no.5 juga bisa di follow up-i dengan menentukan waktu yang akan dijadikan jadwal mentoring rutin. Kalau semangatnya adalah untuk Kesuksesan Akademik, maka lebih baik dilakukan setelah sekolah dan lebih dari 1 pertemuan per pekannya. Namun, jika semangat ruhnya adalah Pengembangan fikriyah diniyah adik mentor dan pembentukan akhlak yang mulai serta ruhiyah yang semakin baik maka waktu mentoringnya bisa lebih fleksibel seperti setelah sekolah, atau pada hari libur Sabtu dan Minggu, ataupun adik mentor bisa diajak menginap sekali-kali untuk kegiatan ruhiyah seperti shalat tahajud di sekolah, atau tadabur malam. Pengembangan fikriyah diniyah adik mentor dan pembentukan akhlak yang mulai serta ruhiyah yang semakin baik membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan semangat dan ruh lainnya (lebih dari 3 jam seminggu sebaiknya), karena banyaknya targetan yang harus dicapai oleh seorang adik mentor. Targetan ini akan saya bahas dalam 10 Muwashafat adik mentor.
8. Tentukan seberapa sering mentor dan adik mentor akan bertemu (baik dalam skala mingguan atau bulanan). Dan tentukan juga berapa lama program mentoring ini akan berlangsung. Sudah menentukan jadwal pertemuan? Kalau sudah, maka di parameter 8 ini saatnya kita menentukan lama program mentoring dan bagaimana jenjang pembinaannya. Misal kita menentukan tahun pertama sekolah adalah momen untuk mengenalkan Islam pada adik mentor, pada tahun kedua diagendakan untuk pengembangan potensi adik mentor, sementara tahun ketiga optimalisasi akademis adik mentor. Kemudian, tentukan jenjang perbulan untuk tema-tema tahun tersebut, waktu setahun dibagi menjadi beberapa sub tujuan (tujuan-tujuan kecil). Hal yang juga yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana kelanjutan pembinaan mereka setelah lulus sekolah (lulus SMP/lulus SMA). Untuk para pembina dakwah SMP saya akan bahas lebih mendalam tentang melanjutkan jenjang pembinaan dari SMP ke SMA dalam tulisan Melanjutkan pembinaan meski sudah lulus sekolah.
9. Tentukan tempat akan dilangsungkannya mentoring. Tempat untuk mentoring tidak harus selalu di mesjid lho. Bisa di taman, di kelas, balai kota, kebun binatang, atau mesjid Agung di luar sekolah. Memvariasikan tempat melaksanakan mentoring bisa menghindarkan adik mentor dari kejenuhan. Sesekali boleh juga mengajak adik mentor ke rumah Antum. Agar ukhuwwah menjadi lebih erat.
10 Tentukan stakeholder untuk program mentoring Antum dan bagaimana Antum akan mempromosikannya. Stakeholder adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap program kita. Selain Antum yang menginginkan adanya program mentoring di sekolah yang Antum bidik, ada orang lain pula yang membutuhkan program mentoring ini. Berikut saya jelaskan siapa saja mereka dan apa saja kepentingan mereka terhadap program mentoring.
- Sekolah. Sekolah menginginkan agar keterbatasan sekolah dalam membina moral, akhlak, akidah dan ibadah siswa dari sisi kurikulum sekolah dapat dibantu dengan adanya program mentoring ini. Terkadang sekolah juga membutuhkan rohis untuk mengusahakan menjadi panitia dalam Perayaan Hari Besar Islam.
- Adik mentor. Adik mentor menginginkan program mentoring yang menarik, tidak membosankan, ceria dan inspiratif. Diharapkan program mentoring dapat senantiasa dirindukan oleh adik mentor. Oleh karena itu program mentoring harus dikonsep sedemikian rupa agar adik mentor terus merindukan pertemuan mentoring.
- Orang tua adik mentor. Orang tua adik mentor takut sekali andaikata program mentoring yang diikuti anaknya di sekolah adalah program mentoring yang mengajarkan pemikiran yang sesat (menjadi teroris, pengebom, menganggap di luar jamaah itu kafir). Rohis harus dapat membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan secara transparan dan rutin memberitahukan perkembangan mentoring kepada mereka.
- Satpam sekolah. Memang satpam tidak punya kepentingan langsung terhadap kualitas dari program mentoring, namun pak satpam harus konsisten menjaga keamanan dengan membatasi jam aktivitas di sekolah. Terkadang Rohis berkegiatan terlalu sore yang membuat satpam terpaksa menghentikan kegiatan. Masalah ini bisa diatasi andaikat terjalin komunikasi yang bagus antara rohis dan satpam. Kalau hubungan keduanya harmonis, bukan tidak mungkin pembatasan jam aktivitas dicabut akibat kepercayaan tinggi yang diberikan satpam kepada Rohis.
- Aktivis Dakwah SMA/Kampus. Ini juga stakeholder tidak
langsung dari program mentoring kita. Aktivis Dakwah SMA (ADS SMA) akan
sangat bersyukur jika Aktivis Dakwah SMP/Rohis SMP (ADS SMP) dapat
membentuk dan menyupply kader-kader islam berkualitas untuk kelanjutan
estafeta dakwah di SMA, begitupun Aktivis Dakwah Kampus akan sangat
bersyukur menampung kader-kader yang berkualitas dari SMA sehingga
dakwah di Kampus dapat lebih solid dengan tambahan “pasukan”.
12. Tentukan protokol/aturan berbasis kasus untuk menjamin kelangsungan program mentoring Antum. Sesempurna apapun persiapan kita membuat program mentoring kita harus siap dengan berbagai kasus yang mungkin belum kita perhitungkan sebelumnya. Kasus-kasus yng kita temui di tengah jalan bisa jadi akan berulang terjadi di masa-masa berikutnya. Kasus yang seperti ini harus kita antisipasi dengan membuat semacam aturan antisipiasi atau yang lazim disebut protokol sehingga jika kasus yang dimaksud terjadi di masa yang akan datang hal itu sudah tidak menjadi masalah lagi untuk Rohis kita. Kasus-kasus yang saya maksud bisa berupa:
- Bagaimana kalau ada orang tua yang komplain dengan kegiatan mentoring?
- Bagaimana kalau ada mentor yang menghilang ditengah berjalannya program mentoring?
- Bagaimana kalau ada mentor mengajarkan hal yang tidak islami?
- Bagaimana kalau ada adik mentor yang pacaran?
- dll.
Sumber: http://catatandsbandung.wordpress.com/2011/04/14/ayo-kita-mulai-merencanakan-program-mentoring-kita-part-ii-12-parameter/

No comments:
Post a Comment