Selain
mentoring sebagai perangkat pembinaan rutin, perangkat atau metode
pembinaan/kaderisasi apa yang sekiranya cocok untuk diterapkan ? dan
bagaimana variasi pemanfaatan perangkat pembinaan yang ada ?
Mentoring
memang merupakan tulang punggung pembinaan bagi lembaga dakwah kampus,
karena mentoring merupakan media atau metode pembinaan yang efektif,
efektif dan andal. Hal ini karena mentoring memberikan kesempatan bagi
seorang pengkader untuk bisa memberikan nilai secara rutin dan berkala
dalam jumlah objek kaderisasi yang kecil ( 5-10 orang per kelompok ). Akan tetapi pada perjalanannya ternyata mentoring saja dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pembinaan kader.
Mengapa
hal ini bisa terjadi ? karena bagaimana pun mentoring memiliki
keterbatasan, salah satunya adalah kapasitas dari mentor yang tidak
merata, serta potensi serta kompetensi mentor yang berbeda-beda. Bagi
mentor yang memiliki kompetensi di bidang Qur’an, maka pola ia membina
tentu akan banyak menekankan pada pengenalan dan pemahaman Qur’an. Ada
pula mentor yang memiliki kecendrungan aktif beramal, maka binaannya
akan diarahkan untuk terus beramal, atau ada pula mentor yang study oriented,
dan ini berdampak pula pada binaannya yang bisa jadi diarahkan untuk
menjadi asisten atau koordinator praktikum sebagai sarana untuk
berdakwah.
Oleh
karena diperlukan adanya perangkat pembinaan tambahan yang dikelola
secara terpusat dengan objek seluruh peserta mentoring ( seluruh kader )
yang bertujuan untuk memberikan kesamaan pemahaman dan kompetensi bagi
kader dakwah. Perangkat pembinaan ini biasanya menjadi additional bagi kader dan diadakan secara eksidental dalam keberjalanan pembinaannya. Perangkat pembinaan tambahan ini biasannya menjadi back up untuk
meningkatkan pemahaman dan kompetensi terkait ; (1) Tsaqofah Islamiah
lanjut; (2) Manajemen Dakwah; (3) latihan Fisik; (4) Wawasan umum dan
kompetensi khusus; (5) Ruh Dakwah. Kelima hal ini merupakan hal-hal yang
terkadang tidak bisa di berikan oleh mentor di mentoring, sehingga
perlu menyerahkan kepada ahlinya untuk dapat menyampaikan materi ini secara baik.
Diklat
Diklat
merupakan pola pembinaan berbentuk rangkaian pelatihan dan simulasi
dalam satu jangka waktu tertentu ( biasanya 3-5 hari ). Dalam diklat
peserta diharuskan menginap dengan harapan bisa focus pada materi yang
akan diberikan. Keunggulan dari diklat adalah peserta terfokuskan dan
memungkinkan untuk mengadakan variasi metode dalam satu diklat, seperti
training, outbound, muhasabah, Qiyamulail berjamaah, simulasi, workshop ,
dan lain sebagainya.
Diklat
baiknya diadakan di tempat yang jauh dari lingkungan kampus, dengan
tujuan ada nuansa dan lingkungan baru yang membuat peserta lebih nyaman
dan siap untuk mendapat materi. Selain itu untuk membuat peserta lebih
terfokus dalam menerima materi, diklat biasanya dibuat dalam satu tema.
Seperti diklat calon pengurus, diklat inisasi struktur, diklat Qur’an,
diklat manajemen dakwah kampus, diklat kepemimpinan, dan lainnya. Dengan
membawa satu tema besar, maka materi yang diberikan akan seputar tema
tersebut, serta varian yang akan diberikan juga menunjang.
Contoh : Diklat Manajemen Dakwah Kampus
Materi
: Sistem Kaderisasi, Pengelolaan Syiar dan Pelayanan Kampus,
Marketisasi Dakwah Kampus, be a strong leader, Fiqih Prioritas Kader
dakwah kampus, Rekayasa Sosial
Varian metode : Training, workshop, bedah buku, membuat tulisan, focus group discussion, dan team building.
Tafakur Alam
Merupakan
metode pembinaan yang bertujuan untuk lebih mendekatkan diri dengan
Allah melalui media mengenal alam. Ini merupakan media yang sebetulnya
sangat sains, karena varian dari tafakur alam sangat banyak. Kebanyakan
dari kita mengenal tafakur alam hanya sebatas pergi ketempat alam bebas
dan mencoba memaknai nya dengan kemegahan ciptaan Allah yang ada di muka
bumi. Akan tetapi ternyata varian metode tafakur alam dapat berkembang,
seperti :
(1) Meneropong
Bintang, melihat kemegahan galaksi bimasakti, dimana peserta bisa
melihat keagungan Allah dengan melihat ciptaannya di angkasa.
(2) Kunjungan ke suku pedalaman. Mencoba mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan serta menumbuhkan empati.
(3) Wisata Ekstrem seperti bungge jump¸ paralayang, terjun
parasut dan arum jeram. Media ini memungkinkan kita mendekatkan diri
pada Allah ketika dengan mencoba merasakan bagaimana rasanya ketika
nyawa terancam
(4) Scuba diving,
mencoba mengenal ciptaan Allah yang maha kaya dan unik di dalam laut.
Biasanya ketika manusia sudah melihat ke-rumit-an ciptaan Allah, maka ia
akan semakin yakin bahwa Allah memang maha Agung
Kunjungan
Kunjungan
atau silahturahmi ke tokoh atau ulama atau tempat tertentu dimana
dengan kunjungan tersebut peserta mendapat banyak ilmu dan hikmah.
Kunjungan ini bisa bertujuan untuk mengambil ilmu langsung dari ahlinya.
Sebutlah untuk belajar tentang ilmu tasawuf ke ulama di pesantren
tertentu, belajar tentang entrepreuenership ke pengusaha, belajar dasar
politik ke pejabat politik, atau belajar lainnya. Biasanya setiap tokoh
punya pengalaman yang “hanya” dia yang memiliki nya, oleh karena itu
sebagai seorang kader yang haus ilmu, sangat diharapkan dapat mendapat
ilmu dan pengalaman berharga dari orang-orang yang telah sukses secara
langsung.
Dalam
konteks kelembagaan kunjungan juga bisa dilakukan ke lembaga dakwah di
kampus lain, dengan tujuan studi banding ( ke LDK yang lebih
berpengalaman ) dan berbagi ilmu/sharing dan menambah feel dakwah skala nasional dengan kunjungan ke LDK lain ( khususnya ke LDK yang muda ).
Malam Bina Iman dan Taqwa ( Mabit )
Perangkat
pembinaan yang focus pada peningkatan kekuatan ruhiyah dan maknawiyah
kader. Mabit yang baik biasanya di isi dengan metode yang mendekatkan
diri kepada Qur’an seperti menghafal Qur’an, Qiyamulail berjamaah, dan
ceramah tentang Qur’an. Selain itu Mabit juga bisa sebagai sarana
konsolidasi lembaga dakwah, dimana mungkin ada masalah besar yang perlu
diselesaikan bersama, di Mabit kader bisa membahas dan menyelesaikan
masalah yang ada. Mabit juga bisa sebagai media perekat ukhwah, dimana
kader diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dalam sesame rekan
dakwah nya dengan bermalam bersama, di Mabit ini akan tampak sifat asli
kader dan dengan inilah kader akan mencoba memahami satu sama lain
dengan baik.
Outbound dan Kemah
Pembinaan
yang menekankan pada latihan fisik atau kesehatan ( terkadang mental
juga ) dari seorang kader. Varian outbound sangat banyak, dari outound
yang bersifat “aman” alias outbound yang diadakan pada tempat khusus
outbound dengan alat-alat pendukung seperti tracking, flying fox, paint ball dan lain-lain. Hingga outbound yang lebih menantang seperti survival di hutan atau kemah alias camping.
Bagaimana pun bentuk outbound dan kemah yang diadakan tentu harus
menyesuaikan dengan kondisi peserta. Apakah peserta lebih nyaman dengan
kondisi tempat yang menantang atau yang “pasti-pasti saja”.
Selain
itu outbound dan kemah bisa bermanfaat juga untuk melatih nyali dari
kader dan melatih kader untuk berani dan melawan ketakutan akan
tantangan dunia. Terkadang media seperti ini sesekali butuh diadakan dan
bermanfaat pula untuk memicu “ruhul istijabah” ( Baca : kesigapan dan
ketaatan ) dari kader yang mungkin melemah karena berbagai sebab.
Tempo
tinggi biasanya diterapkan dalam outbound dan kemah, sehingga nilai
disiplin bisa menjadi titik tekan kejaran dari media pembinaan ini.
Penguatan tali persaudaraan atau ukhwah diantara kader, karena agenda
outbound ini biasanya memakan waktu lebih dari satu hari sehingga
memberikan kesempatan kepada sesama kader untuk saling mengenal dan
berlatih untuk tolong menolong yang bisa juga dijadikan sebagai simulasi
saling membantu dalam kebaikan.
Latihan Olahraga
Latihan
olahraga secara rutin bertujuan untuk melatih kesehatan fisik dari
kader yang bisa jadi terjebak dalam rutinitas dakwah dan akademik yang
membuat tubuh tidak bergerak dalam jumlah yang semestinya. Kader
biasanya sering meninggalkan olahraga karena menilai bahwa olahraga
tidak penting, padahal jika kesehatan kader bermasalah maka akan
berdampak pada dakwah itu sendiri. Sakit nya seorang da’I tidak hanya berpengaruh pada dirinya tetapi juga pada umat sekitarnya. Oleh karena itu membiasakan kader untuk olahraga rutin bisa menjadi solusi. Mulailah dengan hal yang sederhana seperti jogging , latihan sepakbola rutin, renang atau olahraga aerob lainnya. Untuk kader yang memiliki kelebihan ekonomi, bisa menjadikan fitness sebagai
olahraga yang dipilih. Bisa pula ada kebijakan khusus dari tim
kaderisasi lembaga dakwah untuk mewajibkan kader berolahraga minimal 30
menit setiap harinya.
Malam Agitasi
Sebuah
metode dakwah yang selama saya di GAMAIS baru dua kali di lakukan,
sebuah malam dinamisasi dan agitasi kepada kader jika para pemimpin
dakwah menilai kondisi kader dari segi militansi dan soliditas sedang
bermasalah. Pembinaan malam ini biasanya diadakan secara mendadak dan di
informasikan hanya beberapa saat kepada kader dengan pesan yang membuat
kader tergugah untuk datang. Lalu kader diminta hadir di suatu tempat
tertentu, pilih tempat yang mempunyai makna terhadap kader atau dakwah
kampus Anda.
Setelah
itu barulah dimulai malam agitasi yang berisikan pembinaan semi-militer
dengan tempo yang sangat keras, berbagai dinamisasi dan agitas bisa
dilakukan, mala mini berlanjut dengan muhasabah sebagai bagian dari
intropeksi kepada kader bahwa dan diharapkan kader dapat
mengorientasikan kembali niatnya dalam berdakwah dan membangun kembali
kekuatan ukhwahnya dengan sesama kader.
Pelatihan
Pelatihan
atau sering dikenal dengan training, ini merupakan media pembinaan yang
cukup sering dilakukan, pelatihan biasanya dengan berbagai macam tema,
seperti diniyah, manajemen dakwah dan Qur’aniyah. Beri kesempatan kepada
pemateri yang memiliki pengalaman, inspirasional dan mampu menjelaskan
dengan baik nilai dan ilmu tertentu. Sehingga kader mudah menerima nya,
saat ini pelatihan memiliki banyak varian seperti dengan simulasi dan
sebagainya.
Penugasan
Penugasan
langsung seperti meminta kader membaca buku tertentu , membuat resume,
membuat tulisan tentang sesuatu, kunjungan ke suatu tempat, belajat
langsung dari seorang pakar, atau tugas lainnya. Penugasan ini selain
dapat menambah kepahaman kader akan suatu hal, penugasan ini juga
melatih ketaatan dan kesetiaan.
Latihan beramal
Pola
pembinaan yang memberikan kesempatan kepada kader untuk memahami
langsung ”bagaimana cara berdakwah” dengan baik dan benar. Pembelajaran
paling berbekas adalah dari pengalaman. Dengan memberikan kesempatan
untuk beramal apakah dengan menjadi mentor, mengisi pelatihan, menjadi
pembicara, terlibat dalam proyek atau panitia dakwah dan sebagainya.
Biasanya seorang kader juga akan mendapat banyak hal dengan belajar dari
pengalaman, karena semakin kader berpengalaman dalam agenda dakwah maka
semakin dewasa dirinya dalam berdakwah dan berjamaah.
Sumber: http://ridwansyahyusufachmad.com/2008/09/18/perangkat-pembinaan-selain-mentoring/
No comments:
Post a Comment