Oleh: Nadia
Mentoring…
Pada awalnya kata itu terdengar asing di telinga saya. Namun kini kata itu sangat akrab di telinga saya.
Kalau tidak salah, saat itu bulan Januari tahun 2008, ketika saya
mendengar untuk pertama kalinya kata ‘mentoring’. Saat itu saya sedang
duduk di kelas 7 semester 2. Di semester ini kami baru boleh memilih
ekskul pilihan selain ekskul wajib. Kakak kelas banyak yang mengajak
saya masuk cheerleaders. Tapi saya tolak. Jujur saja saya kurang suka
menari di hadapan orang banyak.
Kakak saya menganjurkan saya untuk ikut Keluarga Muslim 13 alias Kamus
13. Itu ekskul kakak saya sewaktu SMP. Keadaan saya yang saat itu belum
berjilbab sedikit membuat saya ragu. Tapi saya yakin saran kakak saya
akan membawa saya ke arah yang lebih baik. Akhirnya saya masuk Kamus 13.
Menurut kakak, di ekskul ini saya akan banyak belajar Islam dengan cara
yang menyenangkan lewat mentoring. Muncul pertanyaan di benak saya, apa
sih mentoring tuh?
Saya ingat ketika temu perdana Kamus 13. Saat itu di ruangan kelas 8B
sebelah ruang wakasek , kami yang mendaftar Kamus 13 berkumpul. Saya
kaget. Ternyata hanya 3 orang yang hadir. Memang ekskul tentang
keagamaan biasanya kurang diminati. Dalam hati, saya mencoba
menyemangati diri.
Saat itu kami bertemu dengan Teh Asti, pelatih Kamus. Dalam temu perdana
itu kami memperkenalkan diri satu persatu dengan menyebutkan nama,
kelas, hobi, dan alasan kenapa mau masuk Kamus 13. Tak hanya Teh Asti
yang ada di sana, beberapa kakak kelas kami juga ada. Mereka sangat
menyenangkan. Mereka ikut memeriahkan suasana supaya kami, anak kelas 7
yang hanya bertiga, tidak merasa kesepian.
Setelah perkenalan, kami melakukan semacam tes psikologi. Kami disuruh
menggambar benda yang disukai, menggambar benang yang panjang dll.
Setelahnya Teh Asti memeriksa gambar kami dan menebak kepribadian kami.
Dia bilang bahwa saya orang yang semangat, emosional, dan juga malas.
Haha tebakan Teh Asti benar meski hanya dengan melihat gambar. Sejak
temu perdana ini kami banyak melakukan tes2 psikologi agar kami mampu
mengenal diri dengan baik.
Itu baru temu perdana. Kegiatan rutin Kamus yang sebenarnya adalah
mentoring. Saya mulai paham apa itu mentoring. Mentoring itu adalah
ketika kami duduk melingkar, berdiskusi tentang islam yang tentunya
diselingi bacaan Al-Quran, mencurahkan isi hati satu sama lain, saling
berbagi tausiyah atau pengalaman bahagia maupun sedih, berbagi makanan,
dll. Oh ini yang namanya mentoring!
Di dalam mentoring tidak ada guru, tidak ada murid. Kami saling
mengeluarkan pendapat dalam diskusi yang menyenangkan. Hal ini membuat
saya jadi semangat belajar agama islam. Di samping berdiskusi, kami juga
olahraga bersama, masak bersama, membuat aksesori yang lucu2, makan
rujak bersama, dll. Pokoknya menyenangkan!
Lewat mentoring saya mendapatkan banyak hal. Sejak ikut mentoring saya
mendapatkan banyak ilmu, saya jadi lebih mengenal potensi diri saya yang
sebenarnya, saya jadi lebih mampu mengatur emosi dan menahan hawa
nafsu, dan yang terpenting sejak mentoring saya jadi berjilbab.
Alhamdulillah…
Hingga saat ini saya masih mentoring. Dan bahkan saya menjadi pementor
di Kamus 13. Saya mencoba memberikan ilmu dan kesenangan yang saya dapat
kepada adik2 mentor saya. Mereka senang tapi tetap mendapatkan ilmu
agama yang sesungguhnya adalah ilmu kehidupan.
Beberapa minggu ke belakang Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan
bahwa ekskul rohis di sekolah2 merupakan cikal bakal teroris. Saya
sedih, sangat sedih! Kenapa kami dibilang teroris? Padahal kami hanya
ingin menggali ilmu agama di sini. Sama sekali tidak ada tujuan untuk
menjadi teroris. Kami bersenang-senang di sini sambil belajar agama.
Sama sekali tidak ada niatan untuk membuat bom atau semacamnya! Kami
hanya anak2 yang ingin belajar. Tidak ada pencucian otak, yang ada
adalah diskusi.
Mentoring…
Saya masih berharap ilmu dan kesenangan yang saya dapat dari mentoring
Kamus masih bisa dirasakan juga oleh siswa-siswi SMPN 13 Bandung. Saya
masih berharap pola pikir dan perilaku yang islami dapat mewarnai jati
diri siswa-siswi SMPN 13 Bandung sehingga jumlah kenakalan remaja di
almamater saya itu bisa berkurang. Aamiin…
Sumber: http://punyanadiaamalia.blogspot.com/2012/10/mentoring.html

No comments:
Post a Comment