Riset yang diadakan oleh MENTOR bekerja sama dengan sekelompok pakar yang dipimpin oleh Drs. Jean Rhodes and David DuBois di tahun 2005 ini melibatkan 17,6 juta responden di seluruh Amerika. Di riset tersebut terungkap fakta-fakta yang bermanfaat dan menjadi penunjuk arah untuk mengembangkan program mentoring di tahun-tahun berikutnya. Fakta-fakta yang saya maksud seperti :
- 3,000,000 orang dewasa memiliki hubungan mentoring one-to-one yang formal dengan remaja Amerika. Sebuah perkembangan sebanyak 19% dibanding tahun 2002.
- 96% dari mentor di Amerika akan merekomendasikan kegiatan mentoring kepada teman-temannya.
- Rata-rata hubungan mentoring berlangsung selama 9 bulan. 38%-nya bertahan sampai satu tahun.
- Sebagian besar mentor tak keberatan mementor remaja dengan keterbatasan seperti anak yang orangtuanya dipenjara, remaja dengan ketidaklengkapan kemampuan motorik dan remaja imigran.
Sebanyak 14% mentor merasa kesulitan membangun
hubungan dengan Adik mentor (mentee) yang membuat hubungan Mentor dan Adik Mentor
tidak terlalu harmonis. Sementara 11% mentor merasa Adik mentor terlalu
dituntut terlalu tinggi untuk mencapai tujuan permentoringan. Hal ini
tidak bisa dipenuhi oleh kemampuan si pementor. Tantangan lainnya yang
lebih sedikit dirasakan dibanding dua hal yang sudah saya sebutkan
adalah : Mentor tidak bisa menyesuaikan dengan adik mentor (8%), Mentor
dan Adik mentor bukan pasangan yang cocok ( 7%), Batasan hubungan relasi
yang tidak jelas(7%), kurang support terutama pendanaan dan materi
(7%), Isu-isu etika (4%), Tidak sepakat dengan aturan yang dibuat
organisasi (6%), Resistansi dari adik mentor (3%) dan masalah dengan
orang tua dan keluarga (4%).
Well, ketika saya melihat hasil sensus ini saya merasakan perbedaan
dengan apa yang terjadi di Indonesia khususnya Bandung di program
Mentoring Dakwah Sekolah ITSAR yang saya ampu saat ini. Saya Justru
merasa permasalahan mentoring di sini adalah sulitnya membangun relasi
yang baik dengan orang tua dan keluarga (top rated). Yang kedua adalah
kurangnya kemampuan mentor dalam menjalankan mentoring dan menyampaikan
materi ataupun mendengarkan permasalahan dari adik mentor. (2nd grade).
Yang ketiga adalah kurangnya pendanaan untuk mengembangkan program
mentoring. Beda negara beda juga masalahnya. Meskipun begitu lewat hasil
sensus ini saya jadi semakin serius membangun program mentoring yang
baik Di Indonesia khususnya Bandung. Masa Amerika saja bisa seserius itu
menangani permasalahan mentoring remaja sementara di sini kita hanya
menganggap mentoring itu perkara sepele untuk sekedar mengisi waktu
luang?. Gak Dong!!
Sumber: http://catatandsbandung.wordpress.com/2011/05/07/tantangan-bagi-seorang-mentor-mentor/
Sumber: http://catatandsbandung.wordpress.com/2011/05/07/tantangan-bagi-seorang-mentor-mentor/

No comments:
Post a Comment