Seperti biasa, jumat pagi merupakan
jadwal pertemuan dengan adik-adik mentor saya. pertemuan yang bukan
berghibah atau melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat apalagi
mendatangkan kemudharatan. Melainkan sebuah pertemuan kebaikan untuk
mempelajari islam & berbagi pengalaman hidup. Maka tak ayal
pertemuan ini penuh dengan kebaikan dan keberkahan (insya Allah).
Sesuai kesepakatan, mentoring dimulai
pukul 6.30 dimasjid kampus. Maka sedari shubuh saya langsung bersiap
dengan ritualitas pagi. Mandi hingga sarapan pagi. Pukul 6.40 saya
sampai kemasjid kampus, saya terlambat datang sesuai waktu kesepakatan
karena terlebih dahulu saya harus ke tempat kerja. Saya Mengira sudah
terlambat dan adik-adik mentor saya sudah menunggu dimasjid, tapi
ternyata mereka belum datang satu orang pun.
“Mungkin Mereka Terjebak Macet..” Pikir saya
Maka saya menunggu kedatangan mereka.
Tidak muncul sedikitpun rasa kesal ketika menunggu adik-adik mentor
saya, Padahal saya tidak suka menunggu walaupun sebentar. Tapi pagi itu
tidak ada sedikitpun rasa kesal.
Jam ditangan menunjukkan pukul 7.15 dan adik-adik mentor saya masih belum datang juga
“Mungkin mereka terjebak macet yang bener-bener parah..” pikir saya kembali
Maka saya masih menunggu adik-adik mentor
saya. Tapi hingga pukul 7.40 ternyata adik-adik mentor saya masih
belum muncul juga & tidak ada kabar berita yang mereka berikan.
Sekedar pesan pendek berupa SMS pun tak ada.
“Mungkin kuliah libur & mereka tidak ke kampus terus mereka tidak punya pulsa sekedar untuk mengkonfirmasi kepada saya..”
setelah berpikir beberapa saat saya
memutuskan kembali ketempat kerja dengan kesimpulan bahwa adik-adik
mentor saya berhalangan hadir karena sesuatu hal & mereka tidak
mempunyai pulsa sehingga tidak mengkonfirmasi ketidak hadiran mereka.
Maka saya langsung mengendarai motor menuju tempat kerja.
Sepanjang perjalanan saya berpikir dan
sadar ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri saya ketika menunggu
adik-adik mentor saya tadi. ketidak biasaan itu adalah tidak ada
sedikitpun kesal muncul ketika menunggu adik-adik mentor saya datang,
padahal saya adalah orang yang tidak suka dibuat menunggu walaupun
sebentar. Masih ingat dulu ketika saya mengikuti lomba Pramuka disalah
satu pesantren terkemuka di Ponorogo Jawa timur, saya kesal karena harus
menunggu teman-teman saya mengangkut kayu untuk keperluan mendirikan
tenda. saat itu saya benar-benar kesal harus menunggu padahal saya tahu
kalau kayu yang kayu yang teman-teman saya angkut tidaklah sedikit dan
ringan tapi tetap saja saya kesal hingga saya berdebat dengan teman saya
yang lain yang juga menunggu seperti saya. Kontras sekali ketika pagi
ini saya menunggu adik-adik mentor saya, tidak ada sedikitpun rasa kesal
dalam diri saya bahkan yang saya rasakan adalah sedikit rasa senang.
Ketika saya sampai ditempat kerja, saya
sadar ternyata menunggu saya pagi ini adalah menunggu untuk melakukan
kebaikan. ketika kebaikan itu terlaksana maka ada pahala & kebaikan
pula yang saya dapatkan (insyaallah), tetapi walaupun tidak terlaksanan
niatan kebaikan tersebut maka setidaknya niat saya sudah tercatat
sebagai pahala (insyaallah) walaupun tidak sebesar ketika kebaikan itu
terlaksana.
“Memang menunggu dalam kebaikan itu menyenangkan.. ” Ucap saya dalam hati
Berbeda ketika menunggu melakukan
perbuatan tercela atau Dosa. tidak ada sedikitpun rasa tenang, yang
muncul adalah rasa gelisah bahkan tak jarang rasa kesal karena niat
untuk berbuat kejahatan sudah mencapai ubun-ubun dan mendesak untuk
dilaksanakan. Muncul rasa kesal bercampur marah karena niat perbuatan
tercela & dosa karena niatan tersebut tidak terlaksana, kalaupun
terlaksana maka muncul rasa puas yang aneh dibalut sesal.
Pagi ini Allah sudah menunjukkan
hikmahnya kepada saya betapa hidup penuh dengan hikmah. hikmah yang
masih berupa kepingan dan membutuhkan tangan-tangan bijak untuk
merangkainya.
Sumber: http://alrifqi.wordpress.com/2012/05/11/menunggu-yang-menyenangkan/

No comments:
Post a Comment