Subhanallah…
Hari
ini, saya mendapat teori yang luar biasa mengenai mengelola sebuah
mentoring. Ah, sering sekali merasa, bahwa ilmu yang baru saja saya
dapat adalah sesuatu yang terlambat saya peroleh. Karena sebelumnya,
saat saya semestinya membutuhkan hal ini, saya tidak mempunyai ilmu
tentang ini. Dan baru sekarang lah saya memperolehnya, meski tak tahu
pasti juga kapan akan benar mampu mempraktekkannya. Itu tak mengapa lah,
toh, selama ini memang selalu begitu. Artinya, kita telah memiliki satu
pengalaman ‘gagal’ atas suatu problem, dan solusi teoritiknya baru kita
tau, sehingga jika nanti mendapati hal yang sama, kita mampu belajar
darinya.
Mentoring. Sebenarnya, selama ini, saya
tidak mendapatkan nihil pengetahuan tentang hal ini, tentang bagaimana
mengelola mentoring. Apalagi, sempat saya mendapatkan amanah di bidang
ini. Ya, dan Alhamdulillah, saya dibersamai orang-orang hebat yang telah
mampu mengaplikasikan ilmu yang hari ini baru saya dapat, dalam
pengelolaan mentoring mereka. Ah, ini sungguh luar biasa! Selama
pemaparan materi tadi, bahkan ingatan saya tertuju pada sosok-sosok luar
biasa di sekitar saya itu.
Ya, berbagi apa yang saya dapatkan tadi,
beberapa hal yang mestinya harus dimiliki oleh seorang mentor adalah
kebersediaan untuknya mengalah, kemampuannya mengasuh, dan kekuatannya
bersabar. Karena yang kita hadapi, bukan orang-orang yang sudah mapan,
bahkan adalah orang yang ‘anti’ terhadap mentoring. Butuh penanganan
ekstra.
Tentang
kebersediaan kita mengalah pada mentee kita, disebutkan oleh al ustadz,
ada yang bertanya, “sampai batas apa kita harus mengalah terus pada
mereka?”, jawab beliau, bahwa kita bisa mengalah sampai tidak ada
batasannya, yang penting dia tetap bersama kita. Selama apa yang diminta
itu tidak melenceng. Ini adalah salah satu peluang untuk kita mengambil
hati mentee tersebut. Prinsipnya, “Saya tidak akan pernah mengatakan
jangan. kata jangan itu akan saya pakai sampai suatu saat kata jangan
itu harus saya gunakan!”.
Tentang kemampuan mengasuh, bahwa mengasuh itu bagaimana menjadikan seseorang itu merasa terhormat, dan potensinya diakui.
Tak banyak orang yang mampu melakukan hal ini. Mengasuh perasaan
seorang yang punya uang, sehingga ia mau berbagi. Mengasuh kesabaran
seorang yang tak punya uang sehingga ia tidak minder dan justru
bertambah bangkit dengan potensi lainnya. Mengasuh seorang yang sedang
sedih, sehingga mampu menjadikannya momen muhasabah dan menangis
berserah pada Allah. Mengasuh seorang yang sedang bahagia, agar
kegembiraannya itu tak berlebih hingga membuatnya lupa dan kikir. Banyak
lagi yang lain. Bagaimana mampu mengerti kebutuhan, untuk kemudian
memberikannya. Bagaimana mengerti kelebihan, untuk kemudian
mengoptimalkannya. Bagaimana mampu mengerti kekurangan untuk kemudian
berupaya menjaga dan menutupnya.
Ada satu statement yang sebenarnya, sering sekali saya dengar dari seorang sahabat saya, “Karena
kita mentarbiyah bukan untuk menjadikan mereka anak buah, melainkan
sebagai partner kita dalam berdakwah nantinya. “Binaan saya suatu saat
yang akan memimpin masyarakat ini!”. Ya, benarlah demikian adanya.
Itulah yang pernah diajarkan mentornya padanya dulu. Dan beberapa saat
kemarin, tatkala saya ngobrol dengan mentor SMA saya dulu, beliau pun
menyatakan demikian, bahwa kita kan partner dakwah, posisi kita sama,
tidak berbeda. “Mungkin, dulu saya murabbi mu, yang kedudukannya lebih
tinggi darimu, tapi sekarang, saat tidak lagi demikian, kamu adalah
menjadi partner dakwah saya! Tidak ada yang lebih tinggi, atau lebih
rendah!”. Tambahnya kemudian, “Mungkin suatu saat, justru sayalah yang
akan menjadi anak buahmu dalam kerja-kerja dakwah kita…”. Dan itu bukan
hal yang buruk atau aib, melainkan hal yang luar biasa, bahwa kita mampu
mencetak orang-orang terbaik dan lebih baik lagi daripada kita sendiri.
Tarbiyah itu
banyak makna, dan merupakan proses tarbiyah itu sendiri. Yang perlu kita
ingat adalah, tarbiyah itu proses panjang. Sangat panjang. Tak usah
kita melihat hasilnya, meski bukan berarti tidak mengevaluasinya. Namun,
fokuslah pada setiap proses yang kita lalui dan lakukan dalam proses
mentarbiyah tersebut.
Tarbiyah itu
pembentukan. Ya, itu yang sering juga disampaikan oleh sahabat saya.
Tarbiyah itu kita membentuk orang! Membentuknya menjadi sebagaimana
Islam inginkan. Tarbiyah itu pengembangan. Tak perlu lah kita mematikan
potensi yang ada pada binaan kita, meski potensi tersebut cenderung
Nampak sangat gaul atau mengarah ke hedonism. Cari dan temukan potensi
yang ada, lalu arahkan menuju pandangan yang benar dari potensinya
tersebut. Tarbiyah adalah pengarahan. Tarbiyah itu penugasan, di mana
kita membentuk orang yang siap menerima penugasan sebagai partner dakwah
kita di masa yang akan datang. Tarbiyah itu pewarisan. Jangan sampai
kita datang, dakwah datang, tapi kita pergi, ianya ikut pergi. Tak ada
kebaikan tersisa lagi. Ini bukan hal yang menunjukkan kehebatan kita,
namun justru sebaliknya.
Tentang
manajemen mentoring, sahabat saya telah banyak mengajari saya melalui
bagaimana caranya mengelola kelompok mentoringnya. Dan itu persis dengan
apa yang saya dapatkan materinya siang ini. Luar biasa. Semestinya,
saya lebih peka lagi mengambil hikmah yang ada. Ya, dia mengelola
mentoringnya, dengan bekal selama SMP-SMA hingga kini yang dia selalu
berkecimpung pada hal yang sama, minimal ia selalu menjadi murabbi, dan
ia buktikan bahwa ia murabbi yang luar biasa.
Ia mengajariu
banyak hal. Mulai dari bagaimana memulai sebuah perkenalan dengan calon
binaan kita, hingga tercipta kesan yang bagus untuk mampu bertahan
selanjutnya. Dia banyak bercerita tentang ini, tentang pengalamannya
saat penyambutan mahasiswa baru, bahkan saat pendaftaran mahasiswa baru
itu. Prinsipnya, “mungkin dia akan menjadi binaanku selanjutnya”.
Lalu, tentang
bagaimana perasaan positifnya yang selalu ditumbuhkan saat berhadapan
dengan binaannya tersebut, “Saya yakin, dia nanti akan menjadi murabbi”.
Padahal, waktu itu ia tahu bahwa binaannya adalah seorang yang
‘brutal’!
Mengenai
teknis manajemen mentoring, mulai dari ia membuatkan nama groupnya,
biodata kelompoknya yang harus ia tahu, rumah dan kondisi binaan yang
harus juga ia ketahui, lalu masa-masa berat yang dialami oleh
adek-adeknya, semua harus ia tahu. Tak jarang, dia berkata padaku, “Aku
mau ke tempat adekku, ia kemarin tidak datang mentoring, mungkin ada
sesuatu yang sedang ia alami”. Dan benarlah, ia ke sana. Terkadang,
mengajak jalan-jalan satu dua orang untuk sekedar lebih mendalami apa
yang mereka rasakan. Ah, bahkan ia punya daftar perkembangan mentee nya
satu per satu.
Tentang
program, jangan ditanya. Sering bercerita padaku, bagaimana setiap
jum’at hari mentoringnya itu, ia mempersiapkan aneka jenis materi, dari
kisah, film, video, lagu, atau buku-buku untuk menjadi bahan
mentoringnya. Tak jarang juga, kegiatan mentoring dilakukan di café
untuk ifthar jama’I, lalu di akhir pekan riyadhah. Sesekali diajaknya
mereka ke kajian keterampilan. Banyak yang telah mereka lakukan. Dan
nyatanya, memang begitulah akan Nampak bagaimana tarbiyah itu. Mungkin,
tidak banyak perubahan yang terlihat, tapi nyatanya saat ini, kelompok
itu solid. Dan mereka yang ada di dalamnya, selalu terisi dengan
kebaikan islam yang ditanamkan sang mentor pada mereka. Contoh yang luar
biasa untukku. Masih banyak contoh yang juga luar biasa, namun, akan
sangat panjang dan tidak selesai jika di bahas di sini.
Statement
terakhir dalam tulisan ini, jadilah murabbi! Set-up ulang hati dan
perasaan ini, “Saya ini adalah murabbi”. Jangan biarkan hanya menjadi
orang yang ditarbiyah terus, karena ini akan menjadikan dia menjadi
beban orang lain, sedang murabbi adalah orang yang mengurangi beban itu.
Karena tarbiyah itu belajar dan mengajarkan… Hmm… paragraph ini yang
begitu menohok hati saya. Semoga luka itu tersembuh atas materi yang
saya dapatkan hari ini, dan yang telah lalu teringatkan kembali. Syukran
untuk sahabat saya atas contohnya.
Sumber: http://cahayaembunfajar.blogspot.com/2011/11/mentoring-itumenyenangkan.html
No comments:
Post a Comment