Biar jelas, mari kita bandingkan keadaan seorang mentor yang tidak dicintai adik mentornya dan mentor yang dicintai adik mentornya :
|
Mentor yang tidak dicintai adik mentor
(mad’u) |
Mentor yang dicintai adik mentor (mad’u)
|
||
|
Saat mad’u menghadiri mentoring
|
Mad’u lesu, ingin cepat pulang
|
Saat mad’u menghadiri mentoring
|
Mad’u bersemangat, sesekali menanggapi materi secara ekspresif
|
|
Ketika Mad’u telat datang
|
Meminta maaf ketika datang ke majelis dan tidak meminta ijin terlebih
dahulu |
Ketika Mad’u telat datang
|
Meminta maaf/ijin karena telat lewat sms
|
|
Ketika Mentor membatalkan mentoring
|
“Asyik! Bisa ngerjain PeeR!”
|
Ketika Mentor membatalkan mentoring
|
“Kang/Teh, ada mentoring pengganti gak?”
|
|
Ketika Mentoring sudah lama vakum
|
Adik mentor cenderung menyimpulkan mentoring sudah berhenti.
|
Ketika Mentoring sudah lama vakum
|
Mad’u terus bertanya, “Kang kapan mentoring lagi?”
|
|
Ketika Mentor berbuat salah
|
Mad’u cenderung diam membiarkan
|
Ketika Mentor berbuat salah
|
Mad’u protes dan mempertanyakannya
|
|
Pernyataan cinta
|
Mad’u tidak menyatakan cinta pada mentor
|
Pernyataan cinta
|
“Kang/Teh, ana uhibbuka fillah…”
|
|
Momen-momen tak terlupakan
|
Makan bareng, naik gunung bareng, menginap bersama di rumah adik
mentor. |
Momen-momen tak terlupakan
|
Makan bareng, naik gunung bareng, menginap bersama di rumah adik
mentor, Mad’u menelepon memberikan selamat ketika mentor ulang tahun, lulus kuliah, dan berbahagia, Mentor dijenguk ketika sakit, Mad’u menceritakan rahasia penting hanya kepada mentor, Mad’u mengajak mentor menginap di rumahnya, Mad’u melepas kepergian mentor di bandara, Mentor dicarikan istri oleh adik mentor. |
1. Mentor Mampu Menghafal Nama Adik Mentornya Seketika dan Selamanya
Abbas Asy-Syisi menyiratkan hal ini dalam bukunya “Memikat Hati Objek Dakwah” dengan menyebutkan kebiasaan menghafal nama sebagai kebiasaan yang harus dimiliki setiap mentor. Menghafal nama adalah awal dari perkenalan. Perkenalan adalah awal dari jalan menuju Cinta. Rasulullah selalu menyebut nama sahabat ketika berdiskusi, bahkan hafal nama-nama populer dari setiap sahabatnya. Terkadang Rasulullah menyebut Ali dalam sebuah halaqah terkadang menyebut dengan panggilan Abu Hasan. Terkadang menyebut Abu Bakar, di lain waktu menyebut Ash-Shidiq.
Mohon tidak diremehkan, tetapi pertemuan pertama(perdana) mentoring adalah waktu paling krusial dan menentukan dibanding pertemuan mentoring kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Jika di pertemuan perdana mentor mampu menghafal nama semua adik mentor dengan baik, maka hal itu akan berbekas ke hati tiap adik mentor. Usahakanlah untuk tidak lagi menggunakan kata “Kamu” kepada adik mentor dan gantilah dengan panggilan yang paling ia senangi. Kesan yang berbekas dari kegiatan menghafal nama ini akan bertumbuh menjadi perasaan simpatik, berkembang menjadi perasaan salut, dan berbunga cinta. Ketika bertemu di jalan, menyapa dan menanyakan kabar gunakan terus panggilan yang amat sangat disukai adik mentor. Niscaya adik mentorpun akan senantiasa mengingat antum dalam hatinya. Janganlah kaget kalau suatu saat perasaan itu berkembang menjadi sebuah bentuk perhatian dan itsar–mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan dirinya sendiri. Percaya deh.
Sumber: http://catatandsbandung.wordpress.com/2011/05/26/jadi-mentor-yang-dicintai-yuk/

No comments:
Post a Comment