Oleh: Prof. DR. H. Irwan Prayitno
dakwatuna.com - Menurut kamus bahasa Indonesia kata
kabar burung setara dengan kata kabar angin atau berita selentingan,
isu, gosip atau berita bohong. Kabar burung adalah informasi yang belum
jelas benar atau salahnya. Tak jarang kabar burung juga bisa berupa
fitnah. Kabar burung dan informasi yang benar batas pemisahnya hanya
setipis kulit ari.
Bagi yang pernah menyembelih ternak, saat
membersihkan isi dalam rongga dadanya tentu pernah melihat sebuah
kantong berwarna hijau. Kantong itu menempel erat dan seperti menyatu
dengan jantung, hati dan paru-paru. Kantong berwarna hijau lumut itu
dinamakan kantong empedu.
Kantong itu terbuat dari selembar
selaput tipis saja. Namun selama selaput itu tidak terganggu dan tidak
bocor meski letaknya berdekatan, kita bisa menikmati lezatnya dendeng
paru, kalio hati atau sate jantung. Tapi jika kantung empedu tersobek,
cairannya terserak ke mana-mana, maka hewan ternak yang disembelih jadi
tak berguna. Dagingnya akan berubah jadi pahit dan tidak enak akibat
terkena cairan empedu yang pahitnya bukan kepalang. Kondisi ini hampir
sama dengan yang digambarkan oleh pepatah “karena nila setitik, rusak
susu sebelangga.”
Batas pemisah kabar burung dan berita yang
benar/shahih juga begitu, bedanya tipis sekali, setipis kulit ari.
Sering keduanya tercampur aduk sehingga sulit membedakan mana yang benar
atau mana yang hanya sekadar kabar burung, desas desus bahkan fitnah.
Dulu kita sulit mendapatkan informasi karena terbatasnya media
komunikasi.
Kini informasi datang melanda begitu deras, nyaris 24
jam sehari dari berbagai penjuru. Informasi bisa datang melalui media
televisi, radio, media cetak, sms bahkan sosial media yang bisa wadahnya
digenggam ke manapun kita pergi.
Jika dulu kita berusaha mencari
informasi, maka saat ini tugas kita menyaring informasi. Informasi
apapun yang kita inginkan, nyaris tanpa batas, bisa diperoleh dalam
hitungan detik melalui search engine di internet. Sungguh luar biasa.
Tinggal memilih dan memilah, informasi mana yang akan diambil dan
dianggap bermanfaat.
Karena gelombang informasi yang luar biasa
itu, para ahli menamakan abad ini sebagai era revolusi informasi. Mereka
yang bernyali bisnis memanfaatkan peluang bisnis yang timbul akibat
fenomena revolusi informasi, begitu juga ilmuwan, artis, politikus atau
siapa saja yang bisa memanfaatkannya.
Namun sayangnya berita yang
benar dan kabar burung seperti empedu dan daging tadi, keduanya seperti
tercampur aduk, sulit membedakan satu sama lain. Informasi yang benar
dan baik tercampur aduk dengan informasi yang tidak benar dan tidak
baik.
Lebih parah lagi ada orang yang mengambil kesempatan
memanfaatkan peluang revolusi informasi secara tidak baik dan salah.
Maka muncullah berbagai macam bentuk penipuan melalui internet maupun
telepon genggam. Ada juga yang memanfaatkan revolusi informasi untuk
kepentingan politik baik secara benar maupun tidak benar. Ada juga yang
secara sadar maupun tidak sadar menyebarkan kabar burung bahkan fitnah
melalui sarana media yang sedang booming. Akibatnya kadang-kala
menimbulkan dampak yang fatal.
Sekali lagi, tugas kita menyaring
mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar. Silakan pilih mana
informasi yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Jangan pula
ikut terpancing untuk ikut jadi penyebar atau komentator informasi yang
kita sendiri belum tahu pasti duduk masalahnya dan juga tidak tahu
persis benar atau salahnya.
Seperti firman Allah dalam surat Al
Hujurat ayat 6; “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Dalam
QS: Al-Israa’ ayat 36 Allah juga berfirman; Dan janganlah kamu
mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungjawabannya.

No comments:
Post a Comment